{"id":4548,"date":"2026-09-15T12:00:38","date_gmt":"2026-09-15T05:00:38","guid":{"rendered":"https:\/\/www.aquaorange.id\/?p=4548"},"modified":"2026-09-07T13:12:29","modified_gmt":"2026-09-07T06:12:29","slug":"otomatisasi-onboarding-karyawan-google-admin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/otomatisasi-onboarding-karyawan-google-admin\/","title":{"rendered":"Mengotomatiskan Onboarding Karyawan Baru dengan Google Admin"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika karyawan baru bergabung, tim IT biasanya perlu menyiapkan sejumlah kebutuhan sebelum mereka dapat mulai bekerja. Mulai dari akun Google Workspace, akses ke layanan yang dibutuhkan, keanggotaan grup, hingga kebijakan keamanan, semuanya perlu disesuaikan dengan posisi dan tanggung jawab masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika proses tersebut dilakukan satu per satu, pekerjaan administratif dapat bertambah seiring jumlah karyawan baru. Risiko lainnya adalah adanya konfigurasi yang terlewat, seperti pengguna belum ditempatkan pada Organizational Unit yang tepat atau belum mendapatkan akses ke grup yang diperlukan.<\/span><\/p>\n<p><b>Google Admin console<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> menyediakan berbagai kontrol untuk mengelola pengguna dan menerapkan konfigurasi berdasarkan struktur organisasi. Organizational Unit (OU), misalnya, dapat digunakan untuk menerapkan pengaturan layanan yang berbeda kepada kelompok pengguna tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, Google Admin bukan sistem HRIS yang secara otomatis memahami seluruh proses onboarding perusahaan. Untuk membuat alur onboarding yang lebih otomatis, administrator dapat mengombinasikan fitur Google Workspace dengan Google Groups, automation, atau integrasi melalui Admin SDK sesuai kebutuhan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Memahami Peran Google Admin dalam Onboarding<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Google Admin console berfungsi sebagai pusat administrasi untuk mengelola akun dan berbagai konfigurasi Google Workspace. Administrator dapat membuat pengguna, mengatur Organizational Unit, mengelola layanan, serta menerapkan kebijakan tertentu kepada kelompok pengguna.<\/span><\/p>\n<p><b>Organizational Unit (OU)<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> sangat berguna untuk membedakan konfigurasi berdasarkan struktur organisasi. Misalnya, pengguna di OU Sales dapat memiliki pengaturan layanan yang berbeda dengan pengguna di OU Finance. Pengaturan tersebut dapat diwariskan dari parent OU atau dibuat sebagai override untuk OU tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, OU sebaiknya dipahami sebagai <\/span><b>mekanisme pengelompokan dan penerapan kebijakan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, bukan sebagai sistem otomatis untuk memberikan seluruh akses kerja karyawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya, memasukkan karyawan ke OU Finance tidak dengan sendirinya membuat mereka menjadi anggota Google Group Finance atau memberikan akses ke Shared Drive tertentu. Akses ke resource seperti file dan Shared Drive perlu dikelola melalui mekanisme sharing dan keanggotaan yang sesuai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk komunikasi berbasis grup, <\/span><b>Google Groups<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat digunakan untuk membuat alamat email bersama dan mengelola keanggotaan. Pada subscription yang mendukungnya, <\/span><b>Dynamic Groups<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat menentukan keanggotaan berdasarkan kondisi tertentu sehingga pengelolaan anggota dapat lebih terstruktur. Ketersediaan Dynamic Groups bergantung pada edition dan konfigurasi Google Workspace yang digunakan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Tantangan Onboarding yang Masih Dilakukan Secara Manual<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses onboarding biasanya melibatkan beberapa pekerjaan yang berbeda. Administrator perlu membuat akun, memastikan lisensi tersedia, menempatkan pengguna pada struktur organisasi yang tepat, mengatur layanan yang dibutuhkan, serta memastikan pengguna masuk ke grup dan resource yang relevan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika jumlah karyawan bertambah, pekerjaan tersebut dapat menjadi repetitif. Kesalahan kecil juga dapat berdampak pada kesiapan pengguna, misalnya akun sudah dibuat tetapi pengguna belum mendapatkan akses ke grup kerja yang diperlukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah lainnya muncul ketika informasi karyawan berada di sistem HR yang terpisah dari Google Workspace. Dalam kondisi tersebut, Google Admin tidak secara otomatis mengetahui bahwa seseorang baru saja menandatangani kontrak atau akan mulai bekerja minggu depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, otomatisasi onboarding sebaiknya dipandang sebagai <\/span><b>alur antara sistem HR dan Google Workspace<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, bukan sekadar satu fitur di Admin console.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Komponen Utama untuk Onboarding Karyawan Baru<\/b><\/h3>\n<p><b>Akun dan Lisensi Google Workspace<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langkah pertama adalah membuat akun pengguna dan memastikan lisensi yang sesuai tersedia. Administrator dapat menambahkan pengguna satu per satu maupun menggunakan proses bulk upload untuk kebutuhan dalam jumlah besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk organisasi dengan banyak karyawan baru, bulk provisioning dapat mengurangi pekerjaan administratif dibandingkan memasukkan setiap pengguna secara manual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, proses ini tetap membutuhkan data sumber yang benar, termasuk nama pengguna, alamat email, dan informasi lain yang diperlukan saat pembuatan akun.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Organizational Unit untuk Penerapan Kebijakan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah akun dibuat, pengguna dapat ditempatkan pada OU sesuai struktur organisasi. OU kemudian dapat digunakan untuk menerapkan pengaturan layanan yang relevan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, organisasi dapat memiliki OU untuk Sales, Finance, dan Operations, kemudian menerapkan konfigurasi Google Workspace yang berbeda sesuai kebutuhan masing-masing tim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan ini membantu administrator menjaga konsistensi konfigurasi tanpa harus mengatur setiap pengguna secara terpisah.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Google Groups untuk Komunikasi dan Akses<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Google Groups dapat digunakan untuk membuat alamat email departemen, mailing list, atau grup komunikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk organisasi yang menggunakan Dynamic Groups dan memiliki edition yang mendukungnya, keanggotaan dapat ditentukan berdasarkan atribut atau kondisi tertentu. Dengan demikian, pengelolaan anggota grup dapat dibuat lebih terstruktur daripada menambahkan setiap pengguna secara manual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, jangan menyamakan Dynamic Groups dengan sistem provisioning penuh. Tidak semua jenis resource atau konfigurasi Google Workspace dapat otomatis diberikan hanya karena pengguna memenuhi kondisi suatu grup.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Shared Drives untuk Dokumen Tim<\/b><\/p>\n<p><b>Shared Drives<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat digunakan untuk menyimpan file yang dimiliki dan dikelola sebagai bagian dari tim atau organisasi. Keanggotaan Shared Drive kemudian menentukan siapa yang dapat mengakses file di dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk onboarding, pendekatan yang lebih terstruktur adalah mengelola akses melalui grup ketika memungkinkan. Dengan begitu, perubahan keanggotaan grup dapat membantu mengelola akses ke resource bersama tanpa harus memberikan permission kepada pengguna satu per satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang perlu diperhatikan, <\/span><b>OU tidak secara otomatis memberikan akses ke Shared Drive<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Pengelolaan akses tetap bergantung pada konfigurasi membership dan sharing yang diterapkan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Panduan Membuat Alur Onboarding yang Lebih Terstruktur<\/b><\/h3>\n<p><b>1. Petakan Data dari HR<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulailah dengan menentukan informasi yang dibutuhkan Google Workspace dari proses HR. Informasi seperti nama, alamat email, departemen, jabatan, lokasi kerja, dan tanggal mulai kerja dapat menjadi bagian dari data provisioning.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika perusahaan memiliki HRIS, data tersebut dapat menjadi sumber bagi proses pembuatan akun dan konfigurasi pengguna.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>2. Buat Struktur Organizational Unit<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Susun OU berdasarkan kebutuhan administrasi, bukan hanya berdasarkan struktur organisasi di atas kertas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, jika Finance membutuhkan konfigurasi Google Workspace yang berbeda dari Marketing, keduanya dapat ditempatkan pada OU yang berbeda. Administrator kemudian dapat menerapkan service settings yang sesuai pada masing-masing OU.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>3. Siapkan Google Groups dan Resource Tim<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentukan grup komunikasi dan resource yang dibutuhkan setiap departemen. Google Groups dapat digunakan untuk mailing list dan, sesuai desain permission perusahaan, dapat menjadi cara yang lebih mudah untuk mengelola akses ke resource bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk kebutuhan yang mendukung Dynamic Groups, administrator dapat menggunakan kondisi tertentu untuk mengelola keanggotaan secara dinamis. Pastikan terlebih dahulu bahwa fitur tersebut tersedia pada edition yang digunakan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>4. Gunakan Bulk Provisioning untuk Hiring dalam Jumlah Besar<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika perusahaan sedang melakukan hiring dalam jumlah besar, administrator dapat menggunakan bulk upload untuk membuat beberapa akun sekaligus. Cara ini lebih efisien daripada membuat akun satu per satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bulk upload sebaiknya dilakukan setelah data dari HR diperiksa. Kesalahan pada data sumber dapat menyebabkan kesalahan pada akun yang dibuat dalam jumlah besar.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>5. Terapkan Kebijakan Keamanan Sejak Awal<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Onboarding juga merupakan kesempatan untuk menerapkan kebijakan keamanan sebelum akun digunakan untuk pekerjaan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satunya adalah <\/span><b>2-Step Verification (2SV)<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Administrator dapat mengatur enforcement 2SV dan menyediakan periode enrollment bagi pengguna baru agar mereka memiliki waktu untuk menyiapkan metode verifikasi sebelum enforcement berlaku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konfigurasi ini perlu dirancang dengan hati-hati. Jika enforcement diterapkan sebelum pengguna menyelesaikan enrollment, pengguna baru dapat mengalami masalah saat login.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Menghubungkan Sistem HR dengan Google Workspace<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk organisasi yang ingin mengurangi pekerjaan manual lebih jauh, proses onboarding dapat dihubungkan dengan sistem HR yang sudah digunakan perusahaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, ketika status karyawan berubah menjadi \u201cready to onboard\u201d di sistem HR, automation atau integrasi internal dapat meneruskan data tersebut ke proses provisioning Google Workspace.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk kebutuhan yang lebih teknis, organisasi dapat memanfaatkan <\/span><b>Google Workspace Admin SDK<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk mengelola resource tertentu secara programatis. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan membangun proses provisioning yang lebih sesuai dengan sistem internalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan model seperti ini, Google Admin tetap menjadi tempat administrator mengelola Google Workspace, sementara HRIS menjadi sumber informasi mengenai status karyawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini lebih realistis daripada menganggap Google Admin sendiri sebagai sistem onboarding end-to-end.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Membantu Karyawan Baru Memahami Workspace<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Onboarding tidak berhenti setelah akun dibuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karyawan baru juga perlu memahami bagaimana menggunakan tools yang tersedia. Perusahaan dapat membuat portal onboarding menggunakan <\/span><b>Google Sites<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berisi panduan penggunaan Google Workspace, kebijakan perusahaan, struktur organisasi, dan tautan menuju dokumen penting.<\/span><\/p>\n<p><b>Gemini<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> juga dapat membantu pengguna memahami informasi yang sudah tersedia dalam dokumen perusahaan. Misalnya, karyawan dapat menggunakannya untuk merangkum dokumen panduan yang panjang atau menemukan informasi tertentu dalam materi yang dapat mereka akses.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, Gemini sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu untuk memahami informasi, bukan sebagai pengganti training atau kebijakan onboarding resmi perusahaan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Menjaga Keamanan Selama Proses Onboarding<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akun baru langsung menjadi bagian dari lingkungan kerja perusahaan, sehingga keamanan perlu diperhatikan sejak akun dibuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain 2SV, administrator dapat menggunakan Organizational Unit atau configuration group untuk menerapkan berbagai service settings kepada kelompok pengguna tertentu. Google Admin memang menyediakan kemampuan untuk menerapkan banyak pengaturan secara berbeda berdasarkan struktur organisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk data perusahaan, prinsip <\/span><b>least privilege<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> tetap penting. Karyawan baru sebaiknya mendapatkan akses berdasarkan kebutuhan pekerjaannya, bukan seluruh resource organisasi secara default.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini juga berlaku untuk Shared Drive. Akses dokumen perlu diberikan melalui membership dan permission yang sesuai, bukan hanya berdasarkan departemen tempat pengguna berada.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Contoh Skenario Onboarding<\/b><\/h3>\n<p><b>Perusahaan dengan Hiring dalam Jumlah Besar<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah perusahaan yang sedang membuka banyak posisi baru dapat menyiapkan data karyawan dari HR dalam format yang sesuai untuk bulk provisioning. Administrator kemudian membuat akun secara bersamaan dan menempatkan pengguna pada OU yang sesuai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, membership Google Groups dan akses resource tim dapat dikonfigurasi berdasarkan kebutuhan masing-masing departemen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan ini mengurangi pekerjaan administratif dibandingkan membuat dan mengonfigurasi setiap akun secara manual.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Perusahaan dengan Banyak Tim dan Lokasi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perusahaan dengan kantor di beberapa kota dapat menggunakan struktur OU untuk membedakan konfigurasi berdasarkan kebutuhan organisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, beberapa pengaturan layanan dapat dibuat berbeda antara tim kantor pusat dan tim operasional. Namun, pembagian tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan konfigurasi Google Workspace, bukan sekadar mengikuti struktur geografis perusahaan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Perusahaan yang Menggunakan HRIS<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk perusahaan yang sudah memiliki HRIS, data karyawan dapat menjadi sumber utama proses provisioning.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika karyawan baru ditambahkan, integrasi dapat digunakan untuk meneruskan informasi yang diperlukan ke proses pembuatan akun dan konfigurasi Google Workspace.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Model ini dapat membantu membangun proses <\/span><b>joiner-mover-leaver<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> yang lebih terstruktur, di mana perubahan status atau posisi karyawan dapat menjadi pemicu untuk memperbarui akun dan akses.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Mengoptimalkan Onboarding dengan Google Workspace<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Google Admin akan bekerja lebih efektif ketika diposisikan sebagai bagian dari ekosistem, bukan sebagai satu-satunya alat onboarding.<\/span><\/p>\n<p><b>Google Groups<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat membantu pengelolaan komunikasi dan membership. <\/span><b>Shared Drives<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat menjadi tempat kerja bersama untuk dokumen tim. <\/span><b>Google Sites<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat digunakan sebagai portal onboarding, sementara <\/span><b>Gemini<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat membantu karyawan memahami informasi yang sudah tersedia bagi mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk perusahaan dengan kebutuhan automation yang lebih tinggi, integrasi dengan HRIS dan Admin SDK dapat digunakan untuk membangun proses provisioning yang lebih terstruktur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengurangi pekerjaan manual tanpa menganggap bahwa semua proses onboarding dapat dilakukan secara otomatis hanya dari Google Admin console.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Kesimpulan<\/b><\/h3>\n<p><b>Google Admin <\/b>dapat menjadi fondasi penting untuk membangun proses onboarding Google Workspace yang lebih terstruktur.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan Organizational Unit, Google Groups, bulk provisioning, Shared Drives, dan kebijakan keamanan seperti 2-Step Verification, administrator dapat mengurangi pekerjaan konfigurasi yang berulang dan menjaga agar akun baru mengikuti standar organisasi sejak awal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, otomatisasi onboarding yang benar-benar end-to-end membutuhkan lebih dari sekadar Admin console. Jika perusahaan ingin menghubungkan proses HR dengan provisioning akun, diperlukan integrasi atau automation tambahan sesuai sistem yang digunakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan desain yang tepat, Google Workspace dapat menjadi bagian dari proses <\/span><b>joiner-mover-leaver<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> yang lebih konsisten, aman, dan mudah dikelola.<\/span><\/p>\n<p><b>AquaOrange Indonesia<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat membantu perusahaan memetakan kebutuhan onboarding, merancang struktur Organizational Unit dan Google Groups, menyesuaikan kebijakan Google Workspace, serta mengevaluasi kebutuhan integrasi untuk membangun workflow onboarding yang sesuai dengan proses bisnis perusahaan.<\/span><\/p>\n<div class=\"fusion-button-wrapper\"><a class=\"fusion-button button-flat fusion-button-default-size button-default fusion-button-default button-1 fusion-button-default-span fusion-button-default-type\" target=\"_self\" href=\"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/google-workspace\/\"><span class=\"fusion-button-text\">Contact Us<\/span><\/a><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika karyawan baru bergabung, tim IT biasanya perlu menyiapkan sejumlah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":4551,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[32],"tags":[],"class_list":["post-4548","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-google-workspace"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4548","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4548"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4548\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4552,"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4548\/revisions\/4552"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4548"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4548"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aquaorange.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4548"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}