Bagi CFO, investasi teknologi tidak berhenti pada pertanyaan berapa biaya lisensinya. Pertanyaan yang lebih penting adalah nilai apa yang diperoleh perusahaan dari pengeluaran tersebut dan apakah ada biaya lain yang sebenarnya dapat dikurangi setelah teknologi dikonsolidasikan.

Pengeluaran software dapat berkembang tanpa disadari ketika setiap departemen menggunakan aplikasi berbeda untuk kebutuhan yang serupa. Satu tim menggunakan platform video conference, tim lain berlangganan aplikasi chat, sementara file perusahaan tersimpan di beberapa layanan cloud. Selain biaya lisensi, kondisi tersebut dapat menambah beban administrasi IT dan membuat karyawan harus berpindah-pindah aplikasi untuk menyelesaikan pekerjaan.

Google Workspace dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengonsolidasikan kebutuhan produktivitas seperti email, komunikasi, kolaborasi dokumen, penyimpanan cloud, dan meeting. Namun, penghematan tidak terjadi hanya karena perusahaan membeli lisensi Workspace. CFO perlu melihat aplikasi apa yang benar-benar dapat dipensiunkan, bagaimana tingkat penggunaan berubah, dan berapa banyak waktu kerja yang dapat dihemat.

Karena itu, pengukuran ROI sebaiknya dilakukan dengan membedakan hard savings, seperti lisensi yang benar-benar dihentikan, dari productivity gains, seperti waktu kerja yang dapat dialihkan ke aktivitas bernilai lebih tinggi.

 

Memahami Masalah Software Silos

Salah satu sumber pengeluaran teknologi yang sulit terlihat adalah penggunaan aplikasi yang tumpang tindih.

Perusahaan mungkin sudah menyediakan Google Workspace, tetapi tim tertentu masih menggunakan layanan video conference berbayar, platform chat eksternal, atau cloud storage lain untuk kebutuhan yang sebenarnya dapat ditangani oleh layanan Workspace.

Kondisi ini tidak selalu berarti setiap aplikasi pihak ketiga harus dihentikan. Beberapa aplikasi memang memiliki fungsi khusus yang dibutuhkan oleh departemen tertentu. Yang perlu dilakukan CFO adalah mengidentifikasi overlapping functionality dan menentukan apakah biaya tersebut masih memberikan nilai yang sebanding.

Masalah lainnya adalah biaya operasional di balik software tersebut. Setiap aplikasi dapat membutuhkan proses onboarding dan offboarding, pengelolaan akun, konfigurasi permission, troubleshooting, serta pengawasan keamanan tersendiri.

Karena itu, evaluasi konsolidasi sebaiknya tidak hanya menghitung harga lisensi, tetapi juga mempertimbangkan total cost of ownership.

 

Komponen Google Workspace yang Dapat Mendukung Efisiensi

Google Meet dan Google Chat untuk Komunikasi

Google Meet dan Google Chat dapat menangani kebutuhan meeting online dan komunikasi tim yang menjadi bagian dari Google Workspace.

Jika perusahaan masih membayar aplikasi lain untuk fungsi yang sama, CFO dapat memasukkannya ke dalam audit software untuk melihat apakah lisensi tersebut masih diperlukan.

Namun, jangan mengasumsikan bahwa semua layanan pihak ketiga otomatis dapat dihentikan. Perbandingan perlu mempertimbangkan kebutuhan seperti kapasitas meeting, fitur administrasi, integrasi, compliance, dan workflow yang digunakan masing-masing tim.

 

Google Drive untuk Kolaborasi File

Google Drive menyediakan penyimpanan cloud yang terintegrasi dengan Workspace.

Dengan Drive dan Shared Drives, perusahaan dapat mengurangi kebutuhan untuk menyimpan dokumen kerja di berbagai lokasi yang tidak terkelola. Dokumen juga dapat dibagikan melalui link dan dikerjakan bersama tanpa harus membuat banyak salinan file.

Dari perspektif CFO, manfaatnya bukan hanya potensi pengurangan biaya storage. Pengelolaan dokumen yang lebih terstruktur juga dapat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk mencari file dan menangani berbagai versi dokumen.

 

Docs, Sheets, dan Slides untuk Kolaborasi

Google Docs, Sheets, dan Slides memungkinkan beberapa pengguna bekerja pada dokumen yang sama.

Hal ini dapat mengurangi kebutuhan untuk mengirim file bolak-balik melalui email dan membuat banyak versi dokumen. Namun, waktu yang dihemat sebaiknya diukur berdasarkan kondisi aktual perusahaan, bukan diasumsikan sebagai penghematan otomatis.

Misalnya, perusahaan dapat mengukur berapa lama sebuah laporan biasanya membutuhkan proses konsolidasi sebelum dan setelah workflow kolaboratif diterapkan.

 

Google Admin untuk Pengelolaan Terpusat

Google Admin console menyediakan satu tempat untuk mengelola berbagai aspek Google Workspace, termasuk pengguna, grup, aplikasi, dan kebijakan tertentu sesuai konfigurasi dan edisi yang digunakan.

Sentralisasi ini dapat mengurangi pekerjaan administratif yang sebelumnya harus dilakukan pada banyak aplikasi.

Untuk CFO, penghematan dari sisi IT dapat dihitung berdasarkan waktu yang benar-benar berkurang dari aktivitas seperti provisioning, perubahan akses, troubleshooting akun, atau pengelolaan aplikasi.

 

Google Vault dan Kontrol Keamanan

Google Vault dapat digunakan untuk kebutuhan retention dan eDiscovery tertentu, sementara berbagai kontrol keamanan Workspace dapat membantu organisasi mengelola akses dan data.

Namun, fitur keamanan tidak sebaiknya diperlakukan sebagai angka penghematan langsung. Nilainya lebih tepat dilihat dari risk management dan total cost of ownership.

Misalnya, konsolidasi platform dapat mengurangi jumlah sistem yang perlu dikelola, tetapi bukan berarti perusahaan otomatis terbebas dari risiko keamanan atau kebutuhan kontrol tambahan.

 

Cara Mengukur ROI Google Workspace

1. Audit Software dan Lisensi yang Tumpang Tindih

Mulailah dengan membuat inventaris seluruh aplikasi berbayar yang digunakan perusahaan.

Kelompokkan berdasarkan fungsi: komunikasi, video conference, file storage, document collaboration, project management, form, dan kategori lainnya.

Kemudian identifikasi aplikasi yang memiliki fungsi yang juga tersedia di Google Workspace.

Jika sebuah layanan benar-benar dihentikan setelah konsolidasi, biaya lisensi yang tidak lagi dibayarkan dapat dihitung sebagai hard savings.

Contohnya, jika perusahaan membayar Rp500 juta per tahun untuk aplikasi yang kemudian benar-benar dipensiunkan, angka tersebut merupakan penghematan biaya yang lebih konkret daripada estimasi produktivitas.

 

2. Hitung Biaya Administrasi IT

Jangan berhenti pada harga lisensi.

Catat berapa banyak waktu tim IT yang digunakan untuk mengelola berbagai aplikasi, termasuk:

  • provisioning dan deprovisioning akun;
  • reset atau pemulihan akses;
  • konfigurasi permission;
  • troubleshooting;
  • pengelolaan aplikasi dan integrasi;
  • proses offboarding karyawan.

Jika konsolidasi mengurangi pekerjaan tersebut, jam kerja yang berkurang dapat dihitung sebagai operational efficiency.

Namun, sebaiknya gunakan data aktual dari helpdesk atau workload IT, bukan asumsi bahwa seluruh pekerjaan tersebut akan hilang setelah migrasi.

 

3. Ukur Productivity Gains

Peningkatan produktivitas lebih sulit dihitung karena waktu yang dihemat tidak selalu berubah menjadi penghematan kas.

Misalnya, seorang karyawan menghemat satu jam per minggu karena tidak lagi harus menggabungkan beberapa versi spreadsheet secara manual.

Jika waktu tersebut digunakan untuk analisis, customer work, atau aktivitas lain yang menghasilkan nilai bisnis, perusahaan dapat menghitung productivity gain berdasarkan nilai waktu tersebut.

Tetapi angka tersebut sebaiknya disebut sebagai productivity value, bukan hard savings, kecuali perusahaan benar-benar mengurangi biaya tenaga kerja atau biaya operasional sebagai hasilnya.

 

4. Evaluasi Hardware dan Infrastruktur

Google Workspace berbasis cloud dapat mengubah kebutuhan infrastruktur perusahaan, tetapi jangan langsung menyimpulkan bahwa perusahaan dapat menggunakan komputer lama tanpa batas atau mengganti seluruh perangkat dengan Chromebook.

Kebutuhan perangkat tetap bergantung pada pekerjaan pengguna. Tim yang menggunakan aplikasi desktop berat, misalnya, memiliki kebutuhan hardware yang berbeda dari karyawan yang sebagian besar bekerja melalui browser.

Karena itu, evaluasi hardware sebaiknya membandingkan total cost of ownership dari model perangkat saat ini dengan model yang direncanakan.

 

Membedakan Hard Savings dan Productivity Value

Ini bagian yang cukup penting untuk CFO.

Misalnya perusahaan menghentikan tiga layanan software setelah migrasi. Biaya langganan yang benar-benar tidak lagi dibayarkan merupakan hard savings.

Sementara itu, jika karyawan menghemat waktu karena kolaborasi dokumen menjadi lebih sederhana, nilainya merupakan productivity gain.

Keduanya dapat masuk ke dalam business case, tetapi jangan dijumlahkan seolah-olah keduanya merupakan penghematan kas yang sama.

Pendekatan ini membuat perhitungan ROI lebih realistis dan membantu manajemen membedakan antara biaya yang benar-benar turun dan kapasitas kerja yang bertambah.

 

Menggunakan Gemini untuk Mengukur Productivity Gains

Gemini di Google Workspace dapat membantu karyawan pada berbagai aktivitas seperti menyusun draft, merangkum informasi, membantu analisis spreadsheet, dan tugas produktivitas lainnya, tergantung fitur dan edisi yang digunakan.

Bagi CFO, penggunaan Gemini dapat dievaluasi dengan pendekatan yang sama: ukur waktu yang sebelumnya dibutuhkan untuk tugas tertentu dan bandingkan dengan workflow setelah AI digunakan.

Misalnya, tim Finance dapat mencatat waktu yang dibutuhkan untuk membuat draft ringkasan laporan, kemudian membandingkannya setelah Gemini digunakan sebagai assistant.

Yang perlu dihindari adalah menganggap waktu yang dihemat otomatis berarti perusahaan dapat mengurangi headcount. Produktivitas yang meningkat dapat digunakan untuk menangani lebih banyak pekerjaan, mempercepat proses, atau mengalihkan karyawan ke aktivitas yang lebih strategis.

 

Memantau Adopsi dan Penggunaan

ROI tidak dapat diukur hanya dari jumlah lisensi yang dibeli.

CFO dan tim IT juga perlu melihat apakah tools tersebut benar-benar digunakan.

Data penggunaan Workspace dapat membantu organisasi memahami pola adopsi. Misalnya, jika sebuah departemen masih sering menggunakan attachment email untuk berbagi file meskipun Shared Drives sudah tersedia, masalahnya mungkin bukan pada lisensi, melainkan pada workflow atau training.

Data tersebut dapat digunakan untuk menentukan area yang membutuhkan perubahan proses atau pelatihan tambahan.

Looker Studio dapat digunakan untuk membuat dashboard dari data yang tersedia dan sesuai dengan konfigurasi organisasi. Dashboard tersebut dapat membantu menggabungkan metrik penggunaan dengan metrik bisnis yang relevan.

 

Contoh Perhitungan Hard Savings

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki 500 karyawan dan membayar dua aplikasi terpisah untuk video conference dan team chat.

Misalnya, biaya layanan video conference adalah US$15 per pengguna per bulan, sedangkan layanan chat adalah US$10 per pengguna per bulan.

Jika seluruh 500 lisensi untuk kedua layanan tersebut benar-benar dihentikan setelah konsolidasi, potensi penghematan lisensi tahunan secara matematis adalah:

500 × US$25 × 12 = US$150.000 per tahun.

Angka tersebut merupakan contoh hard savings dari lisensi yang benar-benar dihentikan. Dalam business case nyata, angka tersebut masih perlu disesuaikan dengan jumlah lisensi aktual, kontrak, periode renewal, kebutuhan fitur, dan apakah seluruh pengguna memang dapat berpindah ke layanan Workspace.

 

Contoh Mengukur Productivity Value

Misalnya tim Finance beranggotakan 20 orang menghabiskan total tiga jam per orang setiap minggu untuk menggabungkan spreadsheet, mencari versi dokumen, dan memperbaiki masalah versioning.

Setelah workflow diperbaiki, waktu tersebut turun menjadi satu jam per orang per minggu.

Artinya, terdapat pengurangan dua jam per orang per minggu, atau 40 jam kerja per minggu untuk seluruh tim.

Nilai ekonominya kemudian dapat dihitung berdasarkan biaya tenaga kerja per jam.

Namun, angka tersebut sebaiknya dicatat sebagai productivity value, bukan langsung dianggap sebagai penghematan kas. Jika 40 jam tersebut digunakan untuk forecasting, financial analysis, atau aktivitas lain yang menghasilkan nilai bisnis, manfaatnya dapat ditunjukkan sebagai peningkatan kapasitas tim.

 

Mengukur ROI Secara Berkelanjutan

ROI Google Workspace sebaiknya tidak diukur hanya pada saat migrasi.

Gunakan baseline sebelum implementasi, kemudian pantau beberapa indikator setelah rollout, seperti biaya software yang berhasil dihentikan, biaya administrasi IT, tingkat adopsi, waktu penyelesaian proses tertentu, dan penggunaan fitur yang relevan.

Perusahaan juga perlu memperhitungkan biaya implementasi, migrasi data, training, perubahan workflow, serta biaya lisensi Workspace dan add-on yang digunakan.

Dengan demikian, perhitungan ROI tidak hanya melihat penghematan di satu sisi, tetapi membandingkan total manfaat dengan total biaya implementasi dan operasional.

 

Kapan Evaluasi Konsolidasi Google Workspace Relevan?

Evaluasi konsolidasi dapat menjadi relevan ketika perusahaan memiliki banyak aplikasi dengan fungsi yang tumpang tindih, biaya lisensi yang sulit dilacak, atau beban administrasi IT yang meningkat.

Namun, konsolidasi tidak selalu berarti memindahkan semua pekerjaan ke satu platform. Beberapa departemen mungkin tetap membutuhkan software khusus karena kebutuhan teknis, compliance, atau integrasi tertentu.

Tujuan akhirnya adalah menemukan kombinasi tools yang memberikan nilai bisnis yang jelas, bukan sekadar mengurangi jumlah vendor.

 

Kesimpulan

Bagi CFO, evaluasi Google Workspace sebaiknya tidak berhenti pada harga lisensi per pengguna. Nilai investasi dapat dilihat dari beberapa sisi: hard savings dari software yang benar-benar dipensiunkan, pengurangan beban administrasi IT, productivity gains, serta pengelolaan risiko dan infrastruktur yang lebih terstruktur.

Google Workspace dapat membantu mengonsolidasikan berbagai kebutuhan kerja seperti email, meeting, chat, penyimpanan, dan kolaborasi dokumen. Gemini juga dapat menjadi tambahan untuk meningkatkan produktivitas pada tugas tertentu.

Namun, ROI tetap bergantung pada implementasi dan adopsi. Perusahaan perlu mengukur baseline, menetapkan metrik yang jelas, memisahkan hard savings dari productivity value, dan mengevaluasi hasilnya secara berkala.

AquaOrange Indonesia dapat membantu perusahaan mengevaluasi penggunaan software saat ini, memetakan peluang konsolidasi, merancang strategi migrasi Google Workspace, dan menyusun workflow yang mendukung efisiensi operasional serta tujuan bisnis perusahaan.

more similar articles